Minggu, 27 Desember 2020

Biografi

 

Assalamu’alikum warahmatullahi wabarkatuh.

Bagimana kabarnya pembaca…semoga selalu sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Berjumpa lagi dengan saya, Vira dalam blog ini.



Kali ini saya akan menulis biografi tentang seseorang yang paling dan sangat berarti dalam hidup saya. Sosok ini dimiliki oleh semua manusia di muka bumi. Sosok yang menjadi salah satu alasan untuk keberadaan saya di dunia ini.

Sosok yang keberadaannya menjadi tiang dalam bangunan kehidupanku. Sosok ini menjadi alasan terbesar bagi diriku untuk terus berjuang dan melakukan yang aku bisa untuk mencapai tujuan hidup. Sosok yang terus mendampingi keputusan dan jalan yang aku pilih. Banyak hal yang bisa diungkapkan dengan sosok ini. Banyak hal yang perlu dipahami dalam mendeskripsikan sosok ini, sedangkan tak akan ada kata yang cukup untuk mendefinisikan sosok ini. Ada banyak hal yang bisa menjadi alasan diriku dalam menulis biografi beliau.

Kalian pasti tau sosok ini, yaa…. Ibu

Mungkin tak hanya diriku, di luar sana banyak anak lain yang memiliki definisinya sendiri tentang ibunya. Ibu tak sebatas pemeran figuran seperti di drama televisi yang hanya numpang lewat saja. Ia adalah pemeran utama dalam drama hidupku, turut andil dan bahkan selalu ambil bagian dalam skenario drama hidup yang kuperankan ini.  

Pemahamannya pada diri kita melebihi pemahaman kita sendiri. Apapun yang dimiliki, rela ia korbankan demi anaknya. Apapun itu….bahkan hidupnya sendiri. Saya begitu heran dengan sosok ini, mengapa ia seolah tidak pernah lelah membagikan kasihnya pada kita. Seolah kasihnya itu tidak pernah habis bahkan berkurang dimakan masa walau dengan keadaan demi keadaan yang dihadapinya dalam membesarkan anaknya yang tidak berguna ini.

Ibuku memiliki nama asli Nur’aini, namun sejak kecil orang mengenalnya dengan nama Sa’nun. Hingga saat ini orang lebih mengenalnya dengan nama itu. Tak banyak yang tahu mengenai nama ini karena semenjak kecil ibuku selalu dipanggil dengan nama Sa’nun. Nama yang menurutku jauh dari nama aslinya. Pernah, saat diriku masih duduk di sekolah dasar kepala sekolahku bertanya mengenai nama asli dari ibuku itu. Namun apalah dayaku yang masih kecil yang hanya mengenal satu nama itu saja. Kepala sekolahku bahkan menyuruhku untuk bertanya kepada ibuku sepulang sekolah, namun aku ragu bila ibuku memiliki nama lain. Aku pun tak lantas menanyakannya pada ibuku, karena aku takut akan ditertawakan.


Di atas adalah foto ibuku sekitar 13 tahun yang lalu.

Hingga pada saat aku menginjak sekolah menengah pertama, aku menemukan akte nikah orang tuaku saat mencari dokumen lain. Aku melihat ternyata nama asli ibuku adalah Nur’aini. Aku merasa betapa durhakanya diriku tidak mengetahui nama asli ibuku sendiri. Namun saat aku bertanya pada ibuku, ternyata bukan saja diriku yang tidak tahu mengenai hal ini melainkan saudaraku yang lain mungkin tidak mengetahuinya juga.

Pasalnya, memang semenjak dulu nama itu jarang sekali disebut lagi. Bahkan di KTP ibuku namanya sudah menjadi Sa’nun. Mungkin nama ibuku akan terus  dan selamanya Sa’nun …..wkwk.

Oya, membahas masalah nama saja sudah seribet ini sampai aku lupa menyampaikan hal lain. Wanita hebat yang aku panggil dengan sebutan Emak ini lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Mempawah (sebelum dimekarkan), Kecamatan Teluk Pakedai yang bernama Sungai Nibung sekitar 53 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 8 Juli tahun 1967. Masih sangat muda bukan? wkwk.... Begitulah, ibuku sudah menjalani hidupnya lebih dari setengah abad lamanya. Begitu banyak pahit maupun manis kehidupan yang ia alami. Namun kerja keras dan semangat saat muda itu masih tetap ada hingga sekarang. Ia merupakan sosok pekerja keras dan tekun dalam melakukan sesuatu dari dulu sampai sekarang.

Ibuku lahir dan dibesarkan di desa kecil yang bernama Sungai Nibung tersebut bersama 7 saudaranya yang lain. Dari kecil ibuku telah terbiasa dengan kehidupan yang serba sulit. Maklumlah yang namanya di kampung, akses apapun akan sangat sulit. Kehidupan zaman dulu sangat berbeda dengan kehidupan saat ini yang serba mudah dan cepat didapat.



Ibuku bilang, dulu ia harus memikul kendi besar bolak-balik untuk mengangkut air yang berkilo-kilometer jaraknya dari rumah. Jangankan akses internet, listrikpun tak ada. Kehidupan di zaman dulu, semua serba sederhana dan penuh perjuangan. Tidak seperti sekarang yang hanya dengan sedikit sentuhan jari, hampir semua yang diinginkan bisa didapatkan. Segala akses dan kemudahan ada di genggaman.

Jika sekarang memasak hanya dengan memutar knop kompor dan jika habis dapat membeli gas di warung, maka dahulu orang harus bersusah payah menyalakan tungku agar dapat hidup. Ditambah lagi jika kayu yang digunakan basah akibat hujan yang menimpa saat mengambilnya di hutan belantara. Tak mudah, orang harus berjuang keras hanya sekedar untuk memasak nasi untuk mengisi perut yang kosong.

Hidup yang serba sulit itu ibuku jalani dengan penuh rasa syukur dan semangat. Selain itu, ibuku merupakan putri pertama, sehingga beban dan tanggung jawabnya begitu berat untuk mengurus adik-adiknya, mengurus rumah, dan lain-lain. Belum lagi, ia juga harus bekerja di ladang untuk membantu meringankan beban orang tua. Berbanding terbalik dengan keadaan yang aku alami sekarang, bukannya membantu, aku malah menambah beban bagi keluarga.

Namun di samping itu semua, aku sadar bahwa ibuku tak ingin sulitnya hidup di zaman dulu yang ia rasakan juga dirasakan oleh diriku. Ia ingin aku mempelajari sesuatu dari kisah hidupnya yang akan membuatku terus bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang, dan tidak terus-menerus memandang ke atas. Melainkan, juga memandang ke bawah, di mana banyak orang yang memiliki jalan hidup  lebih sulit dibandingkan diriku.

Ia selalu mengajarkan bahwa kesederhanaan akan terasa istimewa dengan rasa syukur yang kita punya. Tak peduli seberapa miskin dan kayanya kamu, yang akan dipandang dari dirimu hanyalah bagiamana caramu bersikap pada orang lain. Jadilah layaknya padi yang apabila semakin berisi semakin merunduk. Karakter dan sikap yang baik akan selalu menuntun dirimu ke arah yang baik pula.

Ingatlah, bahwa apa yang kita tanam, maka itulah yang kita tuai. Jikalau menginginkan hal baik, maka lakukan dengan cara yang baik. Lakukan hal yang bisa kita lakukan, dan jangan bersikap berlebihan memaksakan hal di luar kemampuan. Namun, bukan berarti kita tidak boleh mengusahakan hal yang kita inginkan, usahakanlah dengan kemampuan yang diri sendiri miliki.

Mungkin pernah, bahkan kerap kali aku bersikap menyebalkan dan membuat ibuku kesal. Namun di luar itu semua, ia selalu memiliki kasih sayang dan kesabaran yang tak terbatas…. sedalam laut….. seluas samudera…

Begitu suci dan sakralnya kasih sayang yang beliau berikan pada anaknya, hingga apapun yang dihadapi anaknya di luar sana akan terasa ringan dengan senyum indah di bibirnya.

Ketika do’a dan dukungannya terus mengiringiku, entah mengapa aku seakan tak memerlukan yang lain lagi. Namun ketika ia kecewa padaku, seketika seluruh duniaku seolah berhenti. Apapun yang kumiliki seolah tak berharga jika tanpa dukungannya. Aku akan merasa sangat menyesal dengan apa yang kuraih tanpa dukungannya.

Aku tahu, bahwa setiap keinginannya semata-mata demi diriku. Namun, acapkali aku sering mengeluh akan sikapnya yang tidak sesuai dengan keinginanku. Padahal, apapun itu hanya demi kebaikanku.

Tak kan ada hal yang dapat membayar kembali jasanya kepada diriku. Tak peduli dengan apa diriku akan membalasnya, itu tidak akan pernah cukup untuk melunasi semuanya.

Untuk kalian, aku, dan kita semua….ingatlah akan tiba suatu saat kita akan mengerti dan merasakan sendiri betapa sulit dan besarnya tanggung jawab seorang ibu.Mungkin hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan menjadi anak yang senantiasa berbakti kepada orang tua, tidak melupakan didikan baik yang telah ia berikan, dan menjadi anak yang dapat dibanggakan.

Sekian biografi mengenai ibu saya, semoga dapat bermanfaat dan dipetik hikmahnya. Apa yang saya sampaikan merupakan hal yang saya ketahui dan saya pahami. Atas lebih maupun kurangnya saya mohon maaf, karena sesungguhnya tulisan ini jauh dari kata baik apalagi sempurna.

……………

Ke Pontianak menunggangi kuda.

Kudanya cepat gagah perkasa.

Terima kasih telah membaca

Kritik dan saran ajukan saja.

Wabilahi taufik walhidayah, wassalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam kasih untuk kita…anak muda penerus bangsa.

 

 

 

Jumat, 20 November 2020

Analisis Bahasa Berdasarkan PUEBI & KBBI

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikumu warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar teman-teman...semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. 

Kali ini saya akan membagikan hasil analisis  bahasa yang saya lakukan dengan mengutip gambar atau foto dari lingkungan sekitar. Simak uraian selengkapnya di bawah ini.


Gambar 1

















Lokasi gambar: Jl. Panglima A'im

Waktu pengambilan gambar: Jum'at, 20 November 2020

Analisis: Pada gambar tersebut terdapat penggunaan bahasa asing, yakni Special. 

Berdasarkan PUEBI penulisan tersebut kurang tepat, sebaiknya penulisan menggunakan Bahasa Indonesia yakni Khusus. Jika ingin menggunakan bahasa asing, sebaiknya tulisan dimiringkan.

Menjadi Special.


Gambar 2

















Lokasi gambar: Jl. Ya'm Sabran

Waktu pengambilan gambar: Jum'at, 20 November 2020

Analisis: Pada gambar tersebut terdapat penggunaan keterangan tempat, yakni disini.

Berdasarkan PUEBI penulisan tersebut kurang tepat, sebaiknya penulisan kata di dan sini dipisah.

Menjadi di sini.






Gambar 3















Lokasi gambar: Jl. Panglima A'im

Waktu pengambilan gambar: Jum'at, 20 November 2020

Analisis: Pada gambar tersebut terdapat penggunaan bahasa asing, yakni Accessories dan Specialist. 

Berdasarkan PUEBI penulisan tersebut kurang tepat, sebaiknya penulisan menggunakan Bahasa Indonesia yakni Aksesoris dan Spesialis. Jika ingin menggunakan bahasa asing, sebaiknya tulisan dimiringkan.

Menjadi Accessories dan Specialist. 



Gambar 4






















Lokasi gambar: Jl. Panglima A'im

Waktu pengambilan gambar: Jum'at, 20 November 2020

Analisis: Pada gambar ters

ebut terdapat penggunaan bahasa asing, yakni Biscuit.

Berdasarkan PUEBI penulisan tersebut kurang tepat, sebaiknya penulisan menggunakan Bahasa Indonesia yakni Biskuit. Jika ingin menggunakan bahasa asing, sebaiknya tulisan dimiringkan.

Menjadi Biscuit.


Gambar 5


















Lokasi gambar: Jl. Ya'm Sabran

Waktu pengambilan gambar: Jum'at, 20 November 2020

Analisis: Pada gambar tersebut terdapat penggunaan bahasa asing, yakni Service, Software, dan Hardware.

Berdasarkan PUEBI penulisan tersebut kurang tepat, sebaiknya penulisan menggunakan Bahasa Indonesia yakni Pelayanan, Perangkat Lunak, dan Perangkat Keras. Jika ingin menggunakan bahasa asing, sebaiknya tulisan dimiringkan.

Menjadi Service, Software, dan Hardware.


Sekian beberapa gambar atau foto yang penggunaan bahasa dan penulisannya saya analisis. 

Semoga bermanfaat. 

Atas kekurangan maupun kesalahan yang ada dalam penulisan ini, saya mohon kritik dan sarannya. 

Wasaalamu'alaikum waramatullahi wabarakatuh.





  



Selasa, 03 November 2020

100 Kosakata Bahasa Ibu

Kosakata Bahasa Melayu Pontianak, Kalimantan Barat


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo teman-teman, kali ini saya akan sedikit membagikan beberapa Kosakata Bahasa Ibu asal daerah saya, yaitu Pontianak Kalimantan Barat. 
Diantaranya yaitu:

1. Lihat: Tengok
2. Panci: Dandang
3. Wajan: Kuali
4. Bagaimana: macam mane
5. Apa: Ape
6. Lihat: Tengok
7. Air: Aek
8. Enak: Nyaman
9. Anak-anak: Budak-budak
10. Berlari: Bekejar
11. Cantik: Cantek
12. Banyak: Belonggok
13. Penuh: Penoh
14. Tersandung: Tepangkak
15. Tendang: Terajang
16. Hamil: Bunting
17. Istri: Bini
18. Suami: Laki
19. Nangis: Nenges
20. Terkejut: Tekanjat
21. Tersandung: Tepangkak
22. Jembatan: Gretak
23. Banjir: Acap
24. Kepung: Kepong
25. Percuma: Percume
26. Mengada-ada: Ngade-ngade
27. Tidur: Tidok
28. Jatuh: Jatok
29. Semit: Peniti
30. Jidat: Kening
31. Tengkurap: Tiarap
32. Makan: Majoh
33. Jumpa: Jumpe
34. Mana: Mane
35. Lipstik: Gincu
36. Ember: Timbak
37. Baskom: Sanggan
38. Pusing: Pening
39. Gemetar: Begegar
40. Kain Sarung: Kain Pelekat
41. Simpan: Tarok
42. Gula: Gule
43. Selimut: Gebar
44. Mati: Padam
45. Gatal: Miang
46. Pulang: Balek
47. Berminyak: Beleming
48. Sedikit: Sikit
49. Guling: Panggah
50. Gelas: Cawan
51. Piring: Pinggan
52. Mangkuk: Mangkok
53. Ikat Pinggang: Pendeng
54. Bohong: Merampot
55. Minum: Minom
56. Tuli: Pekak
57. Jendela: Tingkap
58. Terasi: Belacan
59. Nenek: Wan
60. Gayung: Centong
61. Berteriak: Mekek
62. Berbicara: Ngomong
63. Sendok: Suduk
64. Nampan: Ceper
65. Palu: Tokol
66. Melamun: Temenong
67. Cepat: Laju
68. Lambat: Lamak
69. Duduk: Dudok
70. Kasur: Tilam
71. Ambil: Ambek
72. Baring: Bareng
73. Tumpul: Tumpol
74. Sunyi: Senyap
75. Tersangkut: Tesengkang
76. Handuk: Andok
77. Got: Paret
78. Bambu: Buloh
79. Mata: Mata
80. Kuping: Telinge
81. Keong: Tengkuyong
82. Jamur: Cendawan
83. Suka: Suke
84. Main: Maen
85. Karpet: Tikar
86. Kalian: Kitak
87. Pepaya: Betek
88. Uang: Duet
89. Pingsan: Selap
90. Lagi: Agek/agik
91. Gurih: Lemak
92. Runyam: Sangsot
93. Kamu: Kau
94. Kami: Kamek
95. Jangan: Tak usah
96. Berantakan: Berkaparan
97. Duduk: Dudok
98. Pelit: Masin
99. Jelek: Burok
100. Talenan: Sengkalan

Demikianlah bahasa ibu yang sering digunakan oleh masyarakat Pontianak, khususnya diri saya. Yang saya tuliskan di atas hanya beberapa dari sekian banyak kosakata yang berbeda antara bahasa Indonesia dengan bahasa melayu Pontianak. Dalam pengumpulan kosakatanya, saya tidak mengalami kesulitan berarti, karena sebagian besarnya sering saya dengar dan  gunakan setiap hari. Semoga bermanfaat...☺
Sekian dan terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Minggu, 01 November 2020

Aku Dan Kampungku

Nama: Vira Ardiyati

Nim: 12001091

Prodi: Pendidikan Agama Islam

Kelas: 1C

Hari, tanggal: Senin, 2 November 2020

Tema: Aku Dan Kampungku

Judul: Lain Kampung Lain Cerita


Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kabarnya teman-teman? Semoga selalu dalam lindungan dan rahmat dari Allah SWT. Aamiin. Kali ini saya akan menceritakan tentang tempat tinggal saya, mulai dari lokasi hingga kemenarikan apa saja yang ada di dalamnya. Untuk itu, simak ulasan lengkapnya yaaa.





Desa Ambawang, kec. Kubu,  Kab.Kubu Raya adalah tanah kelahiran saya. Tempat dimana saya merasakan masa kecil yang bahagia. Walaupun memang terasa begitu singkat, namun kenangan itu tidak bisa dilupakan. 

Kepedulian, kekeluargaan, keberagaman, keharmonisan, toleransi, dan semangat gotong royong yang selalu diutamakan membuat kami selalu kompak. Koordinasi dan komunikasi yang intensif kunci di dalamnya. Tidak ada yang saling mengabaikan satu sama lain, melainkan selalu berbagi dalam suka maupun duka. 


Di sini alam yang indah terpampang nyata yang dapat dikunjungi bagi yang ingin berlibur dan berwisata. Banyak pengunjung yang datang dari dalam maupun luar daerah demi bisa menikmati keindahan alamnya. Tak hanya memiliki alam yang indah, desa ini juga memiliki masyarakat yang rendah hati dan ramah. Walau begitu, desa ini juga tidak kalah mengenai perkembangan masyarakat dan perekonomiannya.

Waktu itu saya masih terlalu kecil untuk banyak mengenang memori masa lalu. Yang paling berkesanlah yang masih dan selalu saya ingat. Kampung halaman saya itu adalah tempat yang paling berkesan dalam hidup walupun saya sudah tidak tinggal di sana lagi.



Namun karena suatu alasan, keluarga saya memutuskan untuk pindah ke Kota Pontianak dan pada saat itu saya duduk di bangku kelas tiga SD. Walaupun merasa sedih harus berpisah dengan keluarga dan teman-teman di sana, namun di sini saya juga mendapatkan keluarga dan teman-teman baru yang tak kalah baiknya.




Jalan Ya'm Sabran Gg. H. Taha, Kelurahan Tanjung Hulu, Kecamatan Pontianak Timur. Demikianlah lengkapnya alamat tempat tinggal saya saat ini. Memanglah tempat tinggal saya ini berlokasi hampir di ujung kota, pasalnya tidak jauh dari tempat tinggal saya sudah perbatasan Pontianak Timur dan Kubu Raya. Namun begitu, Gg. H. Taha masih berada di wilayah Pontianak Timur loh. Di sini kami hidup berdampingan dan penuh toleransi antar sesama. Memanglah bukan pemukiman yang besar, namun di sini saya menemukan tempat tinggal seperti kampung halaman sendiri. Walaupun saya dan keluarga saya merupakan pindahan , namun kami merasa layaknya sudah lama bertempat tinggal di sini.


Dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI, kami selalu mengadakan perlombaan bagi seluruh warga yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan. Ibu-ibu dan bapak-bapanya juga tidak kalah hits dengan anak-anak mudanya loh . Berbagai perlombaan diadakan guna menyemarakkan kegiatan tahunan ini, demi membentuk rasa nasionalisme dan patriotisme sebagai warga negara Indonesia. 

Dalam budaya robo-robo, gang kami juga mengadakan do'a bersama di sepanjang jalanan gang dengan menggelar tikar (saprahan). Masing-masing rumah membawa berbagai makanan khas berupa ketupat, kue apam, dan lain-lain untuk kemudian disantap bersama-sama. Kami mengadakan tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT. atas karunia dan rahmat dari-Nya.


Terkadang kita lupa, bahwa sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupan bahkan akhir dari kehidupan untuk senantiasa menanamkan sikap saling menghargai. Dimana di dalam lingkungan bermasyarakat, kita tidak boleh bersikap apatis dan egois. Ingat sila ke empat Pancasila? Bunyinya "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan", merupakan salah satu landasan hidup dalam bermasyarakat. Di sila ini kita diajarkan untuk selalu menghargai hak orang lain untuk mengutarakan pendapatnya. Selain itu kepentingan bersama lebih diutamakan dibandingkan kepentingan individu.


Demi tercapainya tujuan bersama, kita dituntut untuk memiliki sikap rendah hati dan menerima keputusan (yang tepat) dengan lapang dada. Sebenernya dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, Pancasila menjadi pedoman utama atau dasar yang melandasi itu semua. Ini hanyalah tantang pola pikir dan cara kita menyikapinya serta mengimplementasikannya dalam kehidupan.


Selain dalam konteks kebangsaan, gang kami juga tak kalah dalam konteks keagamaan. Walaupun setiap warganya memiliki kesibukan masing-masing, mereka tidak lupa untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di gang kami terdapat surau sederhana nan indah yang menjadi sarana beribadah. Di surau ini juga ibu-ibu menggelar pengajian rutin setiap minggunya. 


Mungkin di daerah yang lain juga memiliki cerita menarik yang bisa dieksplor dan bahkan mungkin banyak tempat-tempat wisata yang indah. Namun, karena saya memiliki dua daerah tempat tinggal yang masing-masing memiliki kesan tersendiri dalam hidup saya, maka saya memilih untuk bangga dan mengeksplor kebudayaan di dua daerah tempat tinggal saya itu dengan berbagai macam keberagaman dan keseruan di dalamnya. 


Sekian gambaran singkat mengenai daerah tempat tinggal saya, semoga bisa bermanfaat dan memberi inspirasi kepada pembaca. Terimakasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.










Senin, 26 Oktober 2020

Blog Pertamaku | Perkenalan Diri






Bismillahirrahmanirrahim...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Perkenalkan nama saya Vira Ardiyati, Program studi Pendidikan Agama Islam IAIN Pontianak. Asal sekolah dari SMA Negeri 6 Pontianak. Umur saya 18 tahun. Alamat saya di Jalan Ya' m Sabran, Gg. H. Taha Pontianak Timur. Saya anak ketiga dari tiga bersaudara. 

Hobi saya mendengar musik, menonton, baik itu serial drama maupun film. Cita-cita saya adalah menjadi seorang guru. Apa alasannya? Karena menjadi guru adalah salah satu pekerjaan yang mulia. Apalagi ilmu yang disampaikan adalah ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. Selain mendalami ilmu dunia, saya berharap bisa mendalami ilmu akhirat juga untuk menjadi wadah investasi pahala. 

Saya harap karya yang saya tulis dapat diterima dengan baik karena kesalahan dan ketidaksempurnaan datangnya dari diri saya sendiri, dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Mohon bantuannya untuk menanggapi dan memberikan saran pada setiap karya saya.

Sekian perkenalan singkat dari saya, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.






Biografi

  Assalamu’alikum warahmatullahi wabarkatuh. Bagimana kabarnya pembaca…semoga selalu sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Aamii...