Assalamu’alikum
warahmatullahi wabarkatuh.
Bagimana
kabarnya pembaca…semoga selalu sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin.
Berjumpa
lagi dengan saya, Vira dalam blog ini.
Kali
ini saya akan menulis biografi tentang seseorang yang paling dan sangat berarti
dalam hidup saya. Sosok ini dimiliki oleh semua manusia di muka bumi. Sosok
yang menjadi salah satu alasan untuk keberadaan saya di dunia ini.
Sosok
yang keberadaannya menjadi tiang dalam bangunan kehidupanku. Sosok ini menjadi
alasan terbesar bagi diriku untuk terus berjuang dan melakukan yang aku bisa
untuk mencapai tujuan hidup. Sosok yang terus mendampingi keputusan dan jalan
yang aku pilih. Banyak hal yang bisa diungkapkan dengan sosok ini. Banyak hal
yang perlu dipahami dalam mendeskripsikan sosok ini, sedangkan tak akan ada
kata yang cukup untuk mendefinisikan sosok ini. Ada banyak hal yang bisa
menjadi alasan diriku dalam menulis biografi beliau.
Kalian
pasti tau sosok ini, yaa…. Ibu
Mungkin
tak hanya diriku, di luar sana banyak anak lain yang memiliki definisinya
sendiri tentang ibunya. Ibu tak sebatas pemeran figuran seperti di drama
televisi yang hanya numpang lewat saja. Ia adalah pemeran utama dalam drama hidupku, turut andil dan
bahkan selalu ambil bagian dalam skenario drama hidup yang kuperankan ini.
Pemahamannya
pada diri kita melebihi pemahaman kita sendiri. Apapun yang dimiliki, rela ia korbankan
demi anaknya. Apapun itu….bahkan hidupnya sendiri. Saya begitu heran dengan
sosok ini, mengapa ia seolah tidak pernah lelah membagikan kasihnya pada kita.
Seolah kasihnya itu tidak pernah habis bahkan berkurang dimakan masa walau
dengan keadaan demi keadaan yang dihadapinya dalam membesarkan anaknya yang
tidak berguna ini.
Ibuku
memiliki nama asli Nur’aini, namun sejak kecil orang mengenalnya dengan nama
Sa’nun. Hingga saat ini orang lebih mengenalnya dengan nama itu. Tak banyak
yang tahu mengenai nama ini karena semenjak kecil ibuku selalu dipanggil dengan
nama Sa’nun. Nama yang menurutku jauh dari nama aslinya. Pernah, saat diriku
masih duduk di sekolah dasar kepala sekolahku bertanya mengenai nama asli dari
ibuku itu. Namun apalah dayaku yang masih kecil yang hanya mengenal satu nama
itu saja. Kepala sekolahku bahkan menyuruhku untuk bertanya kepada ibuku sepulang
sekolah, namun aku ragu bila ibuku memiliki nama lain. Aku pun tak lantas
menanyakannya pada ibuku, karena aku takut akan ditertawakan.
Di
atas adalah foto ibuku sekitar 13 tahun yang lalu.
Hingga
pada saat aku menginjak sekolah menengah pertama, aku menemukan akte nikah
orang tuaku saat mencari dokumen lain. Aku melihat ternyata nama asli ibuku
adalah Nur’aini. Aku merasa betapa durhakanya diriku tidak mengetahui nama asli
ibuku sendiri. Namun saat aku bertanya pada ibuku, ternyata bukan saja diriku
yang tidak tahu mengenai hal ini melainkan saudaraku yang lain mungkin tidak
mengetahuinya juga.
Pasalnya,
memang semenjak dulu nama itu jarang sekali disebut lagi. Bahkan di KTP ibuku namanya
sudah menjadi Sa’nun. Mungkin nama ibuku akan terus dan selamanya Sa’nun …..wkwk.
Oya,
membahas masalah nama saja sudah seribet ini sampai aku lupa menyampaikan hal
lain. Wanita hebat yang aku panggil dengan sebutan Emak ini lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Mempawah (sebelum
dimekarkan), Kecamatan Teluk Pakedai yang bernama Sungai Nibung sekitar 53
tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 8 Juli tahun 1967. Masih sangat muda bukan? wkwk.... Begitulah, ibuku sudah menjalani hidupnya lebih dari setengah abad
lamanya. Begitu banyak pahit maupun manis kehidupan yang ia alami. Namun kerja
keras dan semangat saat muda itu masih tetap ada hingga sekarang. Ia merupakan
sosok pekerja keras dan tekun dalam melakukan sesuatu dari dulu sampai sekarang.
Ibuku
lahir dan dibesarkan di desa kecil yang bernama Sungai Nibung tersebut bersama
7 saudaranya yang lain. Dari kecil ibuku telah terbiasa dengan kehidupan yang
serba sulit. Maklumlah yang namanya di kampung, akses apapun akan sangat sulit.
Kehidupan zaman dulu sangat berbeda dengan kehidupan saat ini yang serba mudah
dan cepat didapat.
Ibuku bilang, dulu ia harus memikul kendi besar
bolak-balik untuk mengangkut air yang berkilo-kilometer jaraknya dari rumah.
Jangankan akses internet, listrikpun tak ada. Kehidupan di zaman dulu, semua
serba sederhana dan penuh perjuangan. Tidak seperti sekarang yang hanya dengan sedikit
sentuhan jari, hampir semua yang diinginkan bisa didapatkan. Segala akses dan
kemudahan ada di genggaman.
Jika sekarang memasak hanya dengan memutar knop
kompor dan jika habis dapat membeli gas di warung, maka dahulu orang harus
bersusah payah menyalakan tungku agar dapat hidup. Ditambah lagi jika kayu yang
digunakan basah akibat hujan yang menimpa saat mengambilnya di hutan belantara.
Tak mudah, orang harus berjuang keras hanya sekedar untuk memasak nasi untuk
mengisi perut yang kosong.
Hidup yang serba sulit itu ibuku jalani dengan
penuh rasa syukur dan semangat. Selain itu, ibuku merupakan putri pertama,
sehingga beban dan tanggung jawabnya begitu berat untuk mengurus adik-adiknya,
mengurus rumah, dan lain-lain. Belum lagi, ia juga harus bekerja di ladang
untuk membantu meringankan beban orang tua. Berbanding terbalik dengan keadaan
yang aku alami sekarang, bukannya membantu, aku malah menambah beban bagi
keluarga.
Namun di samping itu semua, aku sadar bahwa ibuku
tak ingin sulitnya hidup di zaman dulu yang ia rasakan juga dirasakan oleh
diriku. Ia ingin aku mempelajari sesuatu dari kisah hidupnya yang akan
membuatku terus bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang, dan tidak
terus-menerus memandang ke atas. Melainkan, juga memandang ke bawah, di mana
banyak orang yang memiliki jalan hidup
lebih sulit dibandingkan diriku.
Ia
selalu mengajarkan bahwa kesederhanaan akan terasa istimewa dengan rasa syukur
yang kita punya. Tak peduli seberapa miskin dan kayanya kamu, yang akan
dipandang dari dirimu hanyalah bagiamana caramu bersikap pada orang lain. Jadilah
layaknya padi yang apabila semakin berisi semakin merunduk. Karakter dan sikap
yang baik akan selalu menuntun dirimu ke arah yang baik pula.
Ingatlah,
bahwa apa yang kita tanam, maka itulah yang kita tuai. Jikalau menginginkan hal
baik, maka lakukan dengan cara yang baik. Lakukan hal yang bisa kita lakukan,
dan jangan bersikap berlebihan memaksakan hal di luar kemampuan. Namun, bukan
berarti kita tidak boleh mengusahakan hal yang kita inginkan, usahakanlah
dengan kemampuan yang diri sendiri miliki.
Mungkin
pernah, bahkan kerap kali aku bersikap menyebalkan dan membuat ibuku kesal.
Namun di luar itu semua, ia selalu memiliki kasih sayang dan kesabaran yang tak
terbatas…. sedalam laut….. seluas samudera…
Begitu
suci dan sakralnya kasih sayang yang beliau berikan pada anaknya, hingga apapun
yang dihadapi anaknya di luar sana akan terasa ringan dengan senyum indah di
bibirnya.
Ketika
do’a dan dukungannya terus mengiringiku, entah mengapa aku seakan tak
memerlukan yang lain lagi. Namun ketika ia kecewa padaku, seketika seluruh
duniaku seolah berhenti. Apapun yang kumiliki seolah tak berharga jika tanpa
dukungannya. Aku akan merasa sangat menyesal dengan apa yang kuraih tanpa
dukungannya.
Aku
tahu, bahwa setiap keinginannya semata-mata demi diriku. Namun, acapkali aku
sering mengeluh akan sikapnya yang tidak sesuai dengan keinginanku. Padahal,
apapun itu hanya demi kebaikanku.
Tak
kan ada hal yang dapat membayar kembali jasanya kepada diriku. Tak peduli
dengan apa diriku akan membalasnya, itu tidak akan pernah cukup untuk melunasi
semuanya.
Untuk
kalian, aku, dan kita semua….ingatlah akan tiba suatu saat kita akan mengerti
dan merasakan sendiri betapa sulit dan besarnya tanggung jawab seorang ibu.Mungkin
hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan menjadi anak yang senantiasa
berbakti kepada orang tua, tidak melupakan didikan baik yang telah ia berikan,
dan menjadi anak yang dapat dibanggakan.
Sekian
biografi mengenai ibu saya, semoga dapat bermanfaat dan dipetik hikmahnya. Apa
yang saya sampaikan merupakan hal yang saya ketahui dan saya pahami. Atas lebih
maupun kurangnya saya mohon maaf, karena sesungguhnya tulisan ini jauh dari
kata baik apalagi sempurna.
……………
Ke
Pontianak menunggangi kuda.
Kudanya
cepat gagah perkasa.
Terima
kasih telah membaca
Kritik
dan saran ajukan saja.
Wabilahi
taufik walhidayah, wassalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam
kasih untuk kita…anak muda penerus bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar