Minggu, 27 Desember 2020

Biografi

 

Assalamu’alikum warahmatullahi wabarkatuh.

Bagimana kabarnya pembaca…semoga selalu sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Berjumpa lagi dengan saya, Vira dalam blog ini.



Kali ini saya akan menulis biografi tentang seseorang yang paling dan sangat berarti dalam hidup saya. Sosok ini dimiliki oleh semua manusia di muka bumi. Sosok yang menjadi salah satu alasan untuk keberadaan saya di dunia ini.

Sosok yang keberadaannya menjadi tiang dalam bangunan kehidupanku. Sosok ini menjadi alasan terbesar bagi diriku untuk terus berjuang dan melakukan yang aku bisa untuk mencapai tujuan hidup. Sosok yang terus mendampingi keputusan dan jalan yang aku pilih. Banyak hal yang bisa diungkapkan dengan sosok ini. Banyak hal yang perlu dipahami dalam mendeskripsikan sosok ini, sedangkan tak akan ada kata yang cukup untuk mendefinisikan sosok ini. Ada banyak hal yang bisa menjadi alasan diriku dalam menulis biografi beliau.

Kalian pasti tau sosok ini, yaa…. Ibu

Mungkin tak hanya diriku, di luar sana banyak anak lain yang memiliki definisinya sendiri tentang ibunya. Ibu tak sebatas pemeran figuran seperti di drama televisi yang hanya numpang lewat saja. Ia adalah pemeran utama dalam drama hidupku, turut andil dan bahkan selalu ambil bagian dalam skenario drama hidup yang kuperankan ini.  

Pemahamannya pada diri kita melebihi pemahaman kita sendiri. Apapun yang dimiliki, rela ia korbankan demi anaknya. Apapun itu….bahkan hidupnya sendiri. Saya begitu heran dengan sosok ini, mengapa ia seolah tidak pernah lelah membagikan kasihnya pada kita. Seolah kasihnya itu tidak pernah habis bahkan berkurang dimakan masa walau dengan keadaan demi keadaan yang dihadapinya dalam membesarkan anaknya yang tidak berguna ini.

Ibuku memiliki nama asli Nur’aini, namun sejak kecil orang mengenalnya dengan nama Sa’nun. Hingga saat ini orang lebih mengenalnya dengan nama itu. Tak banyak yang tahu mengenai nama ini karena semenjak kecil ibuku selalu dipanggil dengan nama Sa’nun. Nama yang menurutku jauh dari nama aslinya. Pernah, saat diriku masih duduk di sekolah dasar kepala sekolahku bertanya mengenai nama asli dari ibuku itu. Namun apalah dayaku yang masih kecil yang hanya mengenal satu nama itu saja. Kepala sekolahku bahkan menyuruhku untuk bertanya kepada ibuku sepulang sekolah, namun aku ragu bila ibuku memiliki nama lain. Aku pun tak lantas menanyakannya pada ibuku, karena aku takut akan ditertawakan.


Di atas adalah foto ibuku sekitar 13 tahun yang lalu.

Hingga pada saat aku menginjak sekolah menengah pertama, aku menemukan akte nikah orang tuaku saat mencari dokumen lain. Aku melihat ternyata nama asli ibuku adalah Nur’aini. Aku merasa betapa durhakanya diriku tidak mengetahui nama asli ibuku sendiri. Namun saat aku bertanya pada ibuku, ternyata bukan saja diriku yang tidak tahu mengenai hal ini melainkan saudaraku yang lain mungkin tidak mengetahuinya juga.

Pasalnya, memang semenjak dulu nama itu jarang sekali disebut lagi. Bahkan di KTP ibuku namanya sudah menjadi Sa’nun. Mungkin nama ibuku akan terus  dan selamanya Sa’nun …..wkwk.

Oya, membahas masalah nama saja sudah seribet ini sampai aku lupa menyampaikan hal lain. Wanita hebat yang aku panggil dengan sebutan Emak ini lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Mempawah (sebelum dimekarkan), Kecamatan Teluk Pakedai yang bernama Sungai Nibung sekitar 53 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 8 Juli tahun 1967. Masih sangat muda bukan? wkwk.... Begitulah, ibuku sudah menjalani hidupnya lebih dari setengah abad lamanya. Begitu banyak pahit maupun manis kehidupan yang ia alami. Namun kerja keras dan semangat saat muda itu masih tetap ada hingga sekarang. Ia merupakan sosok pekerja keras dan tekun dalam melakukan sesuatu dari dulu sampai sekarang.

Ibuku lahir dan dibesarkan di desa kecil yang bernama Sungai Nibung tersebut bersama 7 saudaranya yang lain. Dari kecil ibuku telah terbiasa dengan kehidupan yang serba sulit. Maklumlah yang namanya di kampung, akses apapun akan sangat sulit. Kehidupan zaman dulu sangat berbeda dengan kehidupan saat ini yang serba mudah dan cepat didapat.



Ibuku bilang, dulu ia harus memikul kendi besar bolak-balik untuk mengangkut air yang berkilo-kilometer jaraknya dari rumah. Jangankan akses internet, listrikpun tak ada. Kehidupan di zaman dulu, semua serba sederhana dan penuh perjuangan. Tidak seperti sekarang yang hanya dengan sedikit sentuhan jari, hampir semua yang diinginkan bisa didapatkan. Segala akses dan kemudahan ada di genggaman.

Jika sekarang memasak hanya dengan memutar knop kompor dan jika habis dapat membeli gas di warung, maka dahulu orang harus bersusah payah menyalakan tungku agar dapat hidup. Ditambah lagi jika kayu yang digunakan basah akibat hujan yang menimpa saat mengambilnya di hutan belantara. Tak mudah, orang harus berjuang keras hanya sekedar untuk memasak nasi untuk mengisi perut yang kosong.

Hidup yang serba sulit itu ibuku jalani dengan penuh rasa syukur dan semangat. Selain itu, ibuku merupakan putri pertama, sehingga beban dan tanggung jawabnya begitu berat untuk mengurus adik-adiknya, mengurus rumah, dan lain-lain. Belum lagi, ia juga harus bekerja di ladang untuk membantu meringankan beban orang tua. Berbanding terbalik dengan keadaan yang aku alami sekarang, bukannya membantu, aku malah menambah beban bagi keluarga.

Namun di samping itu semua, aku sadar bahwa ibuku tak ingin sulitnya hidup di zaman dulu yang ia rasakan juga dirasakan oleh diriku. Ia ingin aku mempelajari sesuatu dari kisah hidupnya yang akan membuatku terus bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang, dan tidak terus-menerus memandang ke atas. Melainkan, juga memandang ke bawah, di mana banyak orang yang memiliki jalan hidup  lebih sulit dibandingkan diriku.

Ia selalu mengajarkan bahwa kesederhanaan akan terasa istimewa dengan rasa syukur yang kita punya. Tak peduli seberapa miskin dan kayanya kamu, yang akan dipandang dari dirimu hanyalah bagiamana caramu bersikap pada orang lain. Jadilah layaknya padi yang apabila semakin berisi semakin merunduk. Karakter dan sikap yang baik akan selalu menuntun dirimu ke arah yang baik pula.

Ingatlah, bahwa apa yang kita tanam, maka itulah yang kita tuai. Jikalau menginginkan hal baik, maka lakukan dengan cara yang baik. Lakukan hal yang bisa kita lakukan, dan jangan bersikap berlebihan memaksakan hal di luar kemampuan. Namun, bukan berarti kita tidak boleh mengusahakan hal yang kita inginkan, usahakanlah dengan kemampuan yang diri sendiri miliki.

Mungkin pernah, bahkan kerap kali aku bersikap menyebalkan dan membuat ibuku kesal. Namun di luar itu semua, ia selalu memiliki kasih sayang dan kesabaran yang tak terbatas…. sedalam laut….. seluas samudera…

Begitu suci dan sakralnya kasih sayang yang beliau berikan pada anaknya, hingga apapun yang dihadapi anaknya di luar sana akan terasa ringan dengan senyum indah di bibirnya.

Ketika do’a dan dukungannya terus mengiringiku, entah mengapa aku seakan tak memerlukan yang lain lagi. Namun ketika ia kecewa padaku, seketika seluruh duniaku seolah berhenti. Apapun yang kumiliki seolah tak berharga jika tanpa dukungannya. Aku akan merasa sangat menyesal dengan apa yang kuraih tanpa dukungannya.

Aku tahu, bahwa setiap keinginannya semata-mata demi diriku. Namun, acapkali aku sering mengeluh akan sikapnya yang tidak sesuai dengan keinginanku. Padahal, apapun itu hanya demi kebaikanku.

Tak kan ada hal yang dapat membayar kembali jasanya kepada diriku. Tak peduli dengan apa diriku akan membalasnya, itu tidak akan pernah cukup untuk melunasi semuanya.

Untuk kalian, aku, dan kita semua….ingatlah akan tiba suatu saat kita akan mengerti dan merasakan sendiri betapa sulit dan besarnya tanggung jawab seorang ibu.Mungkin hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan menjadi anak yang senantiasa berbakti kepada orang tua, tidak melupakan didikan baik yang telah ia berikan, dan menjadi anak yang dapat dibanggakan.

Sekian biografi mengenai ibu saya, semoga dapat bermanfaat dan dipetik hikmahnya. Apa yang saya sampaikan merupakan hal yang saya ketahui dan saya pahami. Atas lebih maupun kurangnya saya mohon maaf, karena sesungguhnya tulisan ini jauh dari kata baik apalagi sempurna.

……………

Ke Pontianak menunggangi kuda.

Kudanya cepat gagah perkasa.

Terima kasih telah membaca

Kritik dan saran ajukan saja.

Wabilahi taufik walhidayah, wassalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam kasih untuk kita…anak muda penerus bangsa.

 

 

 

Biografi

  Assalamu’alikum warahmatullahi wabarkatuh. Bagimana kabarnya pembaca…semoga selalu sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Aamii...